Postingan

Menampilkan postingan dengan label Curhat

Otak Gue Sekarang Isinya Cuman Duit

Dulu banget, dulu ... dulu ... sekali  Gue nggak kepikiran pengen banyak duit. Maksud gue, nggak terlalu ngejar materi. Sapa sih yang pengen punya rumah bagus, mobil, tabungan banyak dst. Semua orang juga maunya begitu pan.  Pada dasarnya gue orangnya nerimo, dikasih berapa aja nggak protes. Gue mah yang penting harmonis, lebih mengejar kebahagiaan batiniah. Tapi, setelah melalui banyak hal. Gue zengah dan berontak. Seakan muak ada di posisi paling bawah. Menjadi manusia yang nggak bisa menghasilkan uang sekarang bagi gue kek sebuah penghinaan yang menimbulkan luka mendalam.  Tidak dihargai oleh siapapun. Padahal, seumur gue idup, gue nggak terlalu ingin perhiasan. Baju bagus, skincare atau apapun yang bersifat banda. Gue emang anak mamih, nggak pernah ngerasain kerja keras sebelum gue menikah. Sejak dulu, gue manjanya ama perhatian dan kasih sayang dari orang-orang terdekat. Sekarang, gue udah muak dan zengah karena selalu dianggap sebelah mata. Kodrat seorang wanita ya ...

Titik Nol2

Entah mengapa gue mulai pesimis dengan pernikahan gue. Entah kenapa gue mulai halu andai laki gue menyerah bagaimana? Apa gue udah benar-benar siap menghadapi kenyataan itu?  Masalah gue masih belum kelar, gue seperti memegang bom waktu yang bisa saja meledak kapan saja. Gue nggak terlalu yakin kali ini kami bisa melewatinya.  Andaikata itu terjadi, misal laki gue memilih untuk melepaskan gue karena mungkin saja dia sudah jenuh dan berpikir jika tetap bersama gue hidupnya akan terus belangsak. Gue sadar diri, dia berhak hidup lebih baik. Ditambah lagi, gue merasa mertua gue pun sekarang mulai terkena dampaknya. Mungkin juga berpikir dan menginginkan hal yang sama jika laki gue bersama orang lain bisa saja secara materi akan jauh lebih baik.  Tapi seandainya nasib gue harus begitu, rasanya sangat ironis. Ketika sudah sejauh ini kami melangkah, ketika segala yang pahit sudah kami lewati, ketika Tuhan sudah memberikan kesempatan terakhir untuk kami bersama namun berakhir sia...

Ambang Batas 3

Gue mengalami hari yang berat belakangan ini, maksud gue dari setiap hari memang sudah terasa berat. Yang membedakannya hanyalah tekanan yang gue alami terhadap mental gue dari kata berat itu di rate 1-100 persen. Mungkin diatas angka 70.  Yang gue hadapi sekarang urusan uang, tunggakan alias utang atau juga cicilan yang jumlahnya lumayan banyak. Dan setiap kali ada satu yang tembus katakan pecah ke telinga laki gue, setiap saat itu pula tekanan yang gue rasakan mendorong mental gue pada ambang batas yang gue miliki.  Setiap kali dia bertanya untuk apa? Gue selalu tidak bisa menjelaskan dan percuma gue ngomong pun karena dia tidak akan paham dan mau tahu dari sudut pandang gue. Setiap kemarahan yang dia tunjukkan, setiap perkataan yang dia lontarkan seperti anak panah yang menancap ke jantung hati gue paling dalam.  Gue nggak bermaksud mengungkit-ungkit luka lama. Hanya saja hati gue sudah terlalu rapuh. Gue terluka, gue sedih atau meneteskan air mata tapi bukan merujuk p...

Titik Nol

Saat ini, gue masih menunggu ending dari episode atau mungkin fase berat yang sedang gue lalui. Saat gue merasa ya udahlah gue nyerah, karena udah nggak ada lagi yang bisa gue perbuat. Pada akhirnya, gue mulai mengikuti arus deras yang membawa gue entah kemana. Itu yang gue rasakan sekarang.  Saat gue merasa keknya gue nggak kuat, tapi gue mencoba tetap menjalani setiap hari yang gue lalui. Gue nggak luat lagi tanggal atau hari, yang gue nantikan saat gue tidur gue berharap gue bermimpi indah melupakan sejenak segala beban yang gue alami seharian.  Besoknya gue kebangun dengan rutinitas dan masalah yang sama. Boring, jenuh, bosan bahkan muak. Sampai kapan gue begini? Sebagai penulis, yang biasanya gue bikin alur pada setiap karakter yang gue buat. Sudah tentu, penulis skenario terbaik ya Tuhan sendiri.  Setiap jiwa memiliki kekuatan tersendiri, tidak satupun yang luput. Entah mereka sadar atau tidak. Yang bisa gue lakukan untuk mencoba bangkit ya dengan mengingat-ingat ba...

Ambang Batas2

Ini benar-benar bulan yang berat buat gue lalui. Mungkin sebenarnya sejak pergantian tahun, gue udah merasakan hal tersebut. Kek semuanya sama aja, meski tahun berganti. Awal yang buruk, mungkin sampai pertengahan tahun akan terus seperti ini buat gue. Atau sampai gue menemukan jalan keluar yang benar-benar bisa menyelesaikan semuanya.  Seperti yang udah gue ceritakan, belakangan gue merasa hampir semua teman tidak lagi respect ama gue. Termasuk temen-temen yang masih baik pun sekarang benar-benar sudah tidak membalas pesan gue. Itu sangat menyedihkan dan menyakitkan ketika mengenang bahwa dahulu gue dan mereka pernah dekat. Banyak moment berharga. Sekali lagi, gue belum bisa move on dari masa-masa itu.  Saat sekolah menengah pertama, gue berada di posisi paling puncak. Entah dalam prestasi, gue menyabet juara umum. Dimana kala itu, nama gue disebut di tengah-tengah lapangan. Semua mata tertuju ma gue. Begitu juga dalam organisasi, dimana gue merasa banyak bet 'anak buah'. Tem...

Ambang Batas

Belakangan ini masalah gue keknya mencapai klimaks. Dimana gue benar-benar sudah terpojok dan tidak bisa meminta bantuan pada siapapun lagi. Gue sempat prustasi dengan semua itu. Lagipula, gue harus mikir realistis teman yang masih baik pun tidak bisa terus-menerus menolong gue. Terlebih berupa uang yang belum tentu gue bisa balikin cepat-cepat.  Gue ambruk. Kepala gue berat. Pusing, nggak nafsu makan kecuali perut gue udah berasa melilit. Gue kek nggak punya kekuatan untuk menghadapi setiap hari sulit yang biasa gue lalui sebelumnya. Pikiran gue semaput dan semakin gelap ingin melakukan hal konyol. Gue berasa nggak napak di bumi ketika gue berjalan. Setiap helaan nafas gue rasakan begitu berat.  Mata gue perih, tapi selalu tertahan. Kerjaan rumah berantakan. Tiap gue lihat ujung pisau udah kek melambai-lambai ke gue nyuruh gue agar akhiri saja semuanya. Tiap gue bawa motor rasanya pengen gue tabrakin diri aja ke sesuatu. Semua hal bego dan konyol itu kek terlintas begitu saja...

Prasangka

Sebelum gue lanjutin cerita keluarga gue, gue tadi nemu postingan soal prasangka. Intinya gue seakan diingatkan kalau prasangka Tuhan bagaimana prasangka hambaNya.  Gue cuma bisa menghela nafas berat. Karena jujur aja, gue juga pernah ada di posisi dimana gue merasa iman gue saat itu menanjak. Sholat nggak bolong dan selalu awal waktu. Gue juga sempetin ngaji dan terjemahannya. Di sela-sela aktifitas harian gue sambil dzikir dalam hati. Pun ketika gue hendak tidur yang menjadi penghantar sampe gue terlelap ya dzikir lagi.  Tapi seperti yang udah gue bilang, alur hidup gue saat iman gue nanjak atau turun ya tetap sama. Yang membedakan hanyalah saat itu batin gue lebih tenang. Dan jauh lebih sabar.  Saat ini gue pun ingin kembali ke titik itu. Namun, gue merasa terlalu jauh berlari hingga gue lupa jalan untuk pulang. Mungkin lebih tepatnya gue merasa kehilangan jati diri dan tujuan hidup gue lagi. Persis ketika pernikahan gue diuji. Saat itu yang dihajar mental oleh masalah...

I love you but I hate you "Myself"!!!

Orang bilang nggak ada yang lebih mengenal kita selain diri sendiri. Itu benar. Gue bosen curhat di aplikasi diary gue, sesekali pengen gue posting di sini. Kali aja ada yang baca, syukur-syukur ada yang bisa mengambil hikmah dari curhatan gue.  Seringkali, ampir tiap saat mungkin ... gue kadang benci sama diri gue sendiri yang selalu gagal dalam hal apapun. Tapi di saat yang sama, gue juga sangat mencintai diri gue yang sekarang saat ingat kalau di bandingkan diri gue yang dulu, gue sekarang amat jauh lebih kuat secara mental terlebih fisik.  Lahir sebagai anak paling bontot menjadikan gue pribadi yang manja dan melow. Nyokap gue tipe ibu yang lembut dan nggak pernah ngebentak. Nggak pernah maksa gue buat bantu beres-beres rumah juga. Kerjaan gue semasa sekolah ya cuma sekolah maen itu-itu aja.  Gue nggak pernah ngerasain kerja keras. Bagi nyokap gue yang penting ga ninggalin sholat n tetep belajar. Dan semasa gue sekolah, itu adalah masa-masa emas dalam hidup gue. Gue b...